An's posts with tag: renungan
Sakitnya sekujur tubuh ini, Rabb... Nyerinya segenggam hatiku, Rabb... Lelahnya jiwa ini melangkah, Rabb...
Jikalau memang Kau membari ujian hanya sebatas kemampuan hambaMu... Inilah batasku, Rabb... Dengan seluruh yang kupunya...
Segala kehinaanku Segala kelemahanku Segala kekuranganku Segala keburukanku Segala yang tak bernilai di hadapanMu...
Rabb... Aku sungguh lelah... Ijinkan hanya saat ini kubersandar pada cintaMu Setelah itu, kuserahkan semua padaMu...
Iya, kalau FPI mendukung hal-hal yang justru diharamkan Islam.... (wakakakakak, pada terpengaruh sama judul, yak???  ) Tapi kenyataannya kan gak?????? Akan diam sajakah kita bila: 1. Perzinahan di mana-mana 2. Korupsi semakin mengganas 3. Pemimpin kita tidak bisa tegas 4. Islam dilecehkan 5. Kejahatan semakin tidak terbendung...Halooooooo, yang ngaku umat Islam!!!!!! Contohlah Habib Rizieq!!! Beliau benar2 berani maju di garis depan untuk menentang segala bentuk maksiat pada Allah, lalu di garis manakah kita? Habib Rizieq adalah contol frontal yang mengingatkan aku pada sayyidina Umar bin Khaththab... Tegas, berani, tanpa tedeng aling2, gak lembek pada musuh Islam.... Contoh kasus yang aku alami sendiri: Ketika di daerah rumahku ada sekelompok pemabuk yang rusuh, ketua RT dan RW hanya mesem gak jelas  . Sementara penduduk udah rata2 sepuh...Suamiku sudah kehilangan cara untuk menegur secara sopan hingga akhirnya menutup tempat dagangnya karena sering ditongkrongin (pagi hari, saat hendak dagang, di laci tempat menyimpan uangpun selalu ditemukan berisi botol2 minuman keras.....   ) Tapi Allah memang Maha Adil... Gak lama, pimpinannya / gembongnya meninggal mengenaskan dan terhina: hatinya membusuk,muntah darah, dan dilarikan ke rumah sakit dengan truk butut, tapi gak selamat. Ketika meninggal nyaris gak ada yang mau menyolatkan dan bertakziah. Ketika hendak dimakamkan, kuasa Allah bicara.... Bumi tak mau menerimanya. Liang lahatnya tidak muat meski sudah 3x dibongkar. Akhirnya, kaki mayit terpaksa dipatahkan..  Na'udzubillah....Itu terjadi di hari terakhir Ramadhan, 3 tahun yang lalu... Itu hanya contoh kecil betapa sebenarnya kita lemah menghadapi kemaksiatan.... Beranikah kita mencotoh Habib Rizieq.... Jikalau FPI khilaf, ya mohon dimaafkan. Jikalau anggotanya yang salah, maafkanlah. Allah saja Maha Pemaaf, masa kita yang dhoif ini mau sok belagu menghukum orang tanpa tabayyun???? Kenapa malah AKKBB yang jelas2 nyeleneh dan menentang Islam yang lurus itu yang dibela???? Aneh!!! Pemerintah??? Mana nih nyalinya untuk membubarkan Ahmadiyah???Kok diem ajah??? Ya Allah, tunjukkan cahaya cintaMu... (aku bukan anggota dan pendukung FPI, tetapi sekedar mengingatkan diri sendiri...) --------capek ah-------
Aku bukan orang yang mendalami agama sendiri secara benar (masih bandel  ) dan oleh karena itulah aku merasa mesti banyak belajar tentang hikmah2 yang aku dapatkan di setiap masalah atau hal2 yang aku hadapi setiap hari. Masalah yang paling klasik: rezeki. Yang aku tau hanyalah bahwa tahap pemberian rezeki dari Allah itu ada 3: 1. Langsung dikabulkan 2. Ditunda 3. Ditangguhkan hingga saat di pengadilan Allah nanti. Bener gak ya? Nah, beberapa kali aku mengalami yang nomer 1 dan 2. Ngerasain bangeeetttt... Tapi lebih sering sih yang nomer 2. Mungkin Allah hendak menguji tingkat kesabaran seorang An yang super slebor...  Contohnya: ingin menikah di usia 20, dikasihnya usia 23. Ingin punya anak segera, dikasihnya usia 25. Ingin segera dapat kerja setelah resign 2003, dapat lagi 2007. Dan banyak hal2 kecil lainnya. Seperti dari jaman sekolah ingin punya 1 set mukena untuk travelling, baru dapetnya 10 tahun kemudian! Doa yang paling berkesan adalah: ingin punya suami  keturunan Cina yang bisa bikin makanan dan beda usianya diatas 10 tahun.... Dikabulkan lho!!!! Dan ketika aku mendapatkan satu paket CD DEBU lengkap dengan tanda tangan mereka... Itu adalah doaku selama 4 tahun! Subhanallah walhamdulillah!!!!!   Terima kasih ya Alah atas segala bentuk  Mu yang sungguh menakjubkan... Biarkan aku terus merasakan kasih sayangMu yang tanpa batas ini... Allah, sungguh tak pernah aku menyangka kasihMu yang luas ini... Hmm.... kira2 apalagi ya doaku yang belum terwujud??? *mikir* Ah, biarlah itu menjadi rahasia Allah yang maha indah....
Sungguh, Allah Maha Segalanya. Mengatur dengan sangat indah segala rencanaNya. Cerita pagi ini begitu indah... ======= Jam yang kulihat di terminal Depok menunjukkan 05.24 WIB. Aku bergegas menaiki angkot 04 jurusan Depok TImur-Pasar Minggu. Masih kosong. Tepat di belakangku seorang ibu yang kutaksir usianya sekitar 65 tahun keatas. Beliau duduk di sebelahku. "Ini ke Pasar Minggu kan, neng?" tanyanya tiba-tiba. Aku mengangguk. Kemudian, ibu itu langsung membuka percakapan. Mengalir begitu cepat. Apakah terbayang yang pertama kali beliau ceritakan? Tepatnya, beliau kritik? JILBABKU!  Halah... Jadi gini, biasanya aku pakai jilbab itu kan yang model instant dan so pasti menutupi jilbab dong. Tapi hari ini aku pakai jilbab segi empat dan dengan model Inneke Koesheawaty (bayangin ajah sendiri!). Si ibu (aku kurang dengar ia menyebut namanya. Asri? Asih? Asti? ) mengkritik gaya berjilbabku. AKu mesem. "Maaf lho, neng. Si nenek ini mah cuma kasih tau ajah. Didengerin sukur, enggak ya udah." Duh, telak deh!  "Sebagai sesama mukmin kita harus saling mengingatkan ya? Sudah bagus kok neng mau berjilbab. Tapi tolong diubah modelnya. Kasian kan mama?" Aku mengangguk lemah. Akku menceritakan bahwa mama sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Ada kisah unik yang beliau ceritakan padaku: "Saya sedang mengantri daftar di RSPP, ada seorang ibu dan anak perempuannya. Si ibu berjilbab sementara si anak 'telanjang' alias berpakaian minim sekali. Ketika nama si ibu dipanggil, si anak yagn maju. Karena meja registrasi cukup tinggi, maka terlihatlah pinggul dan pinggang si anak dengan jelas. Saya bergegas kenghampiri seorang cleaning service dan berbisik,'Kamu saya kasih rokok sebungkus kalau mau sentuh pinggang perempuan itu' . Awalnya si claning service ogah, tapi saya paksa. Kemudian ketika si clanign service mendekat dan hendak menyentuh anak itu, si anak perempuan itu marah. Saya bilang, 'Jangan marah! Kan apa-apa yang terlihat boleh dipegang!' Ibunya si perempuan itu lari karena malu." Si ibu tergelak saat cerita. Aku geleng-geleng kepala karena kenekatannya. Beliau bertanya, "Coba tebak, saya sakit apa?" Aku menggeleng sambil nyengir. "Saya sakit kanker ganas lho! Nih, dua-duanya sudah diangkat," sambil menunjuk ke arah dadanya.  Aku kaget 1/2 mati. Kanker Payudara? Ya Rabb! Sakit seperti itu tapi mau ke RSPP sendirian?????? Seolah mengerti apa ayng kupikirkan, "Si nenek ini gak mau dianter2anter. Gak mau ngerepotin orang. Waktu lagi dirawat ajah, baru selesai operasi udah jalan ke wc sendirian. Suster sama doketer sampe stress (si ibu terkekeh). 'Ibu, koks endirian? Kan ibu baru operasi besar!' Hehehe, protes. Biarin, masih bisa jalan sendiri kok!" Aku tergelak. Walaaaahhhhh..... "Ibu gak pernah minum obat yang dokter kasih dari RSPP. Kenapa? Obat itu racun kan? Ibu hanya minum air putih berisi doa ayat Kursi dan al-Ma'tsurat.Obatnya di kemanain? Ibu kasih ke pasien lain yang membutuhkan obat2 mahal itu." Aku tercenung. Waduh, subhanallah! "Kapan ibu operasi?" tanyaku penuh minat. "Tahun 86. Udah lama kan? Gak keliatan sakit ya?Hehehehe..." Ya Allah, aku masih te-ka!  "Ibu pasien luar di RSPP? Atau dulu karyawan Pertamina?" "Dulu ya, karyawan Pertamina di By Pass." "Oh ya? Kapan ibu pensiun?" "Tahun 95." "Mama saya MPP tahun 98, kemudian meninggal." "Nah, sudah membalas jasa mama belum?" Aku menggeleng lemah. "Kalau begitu, ini pesan si nenek tua nih: hidup kita sebagai seorang muslimah ada tiga, neng. Inget ya? Kita sebagai istri, kita sebagai ibu, dan kita sebagai muslimah." Aku menangguk sambil tersenyum mantap. "Hafal ayat Kursi?" tanya ibu sambil mendelik lucu. "Iya dong, Bu!" "Bagus. Kirain gak hafal (walah!).... Ingat, baca ayat Kursi setiap mau naik angkot 3x dalam satu nafas. Setiap mau tidur, dan setiap mau masuk ruangan kantor. Ingat itu, neng!" Aku menahan nafas. Oke, aku catat dalam hatiku. Nasihat yang kudu diingat. "Mau ke mana?" "Kerja bu." "Di mana?" "Di Dukuh Atas." "Kerja yang bener ya? Ngelewatin Hotel Indonesia? Eh, gak ya? Duh, HI itu dulu kebanggaan kita lho! Kan banyak sejarahnya. Oh iya, sudah punya anak? Berapa?" "Sudah bu. Dua." "Didiklah yang benar ya? Jangan sekali-kali bilang kata JANGAN. Dekati dia dan nasihati baik2. Mendidik anak itu gak gampang lho. Ingat, anak bukan jajahan kita. Mereka titipan Allah. Apa hak kita larang2 kalau mereka mau belajar? Tetapi kalau salah, dinasehati. Eh, neng gak usah bingung. Atau malah dalam hati ngomong, 'mimpi apa ya semalam ketemu nenek2 bawel'?" Beliau terkekeh. "Gak bu, malah saya terima kasih dinasehati seperti ini. Bermanfaat," aku tersenyum. "Satu hal lagi nih. Inget ya, direnungi, diamalkan. Ada tiga hal pesan si nenek tua nih sama neng: JUJUR, DISIPLIN, dan TANGGUNG JAWAB. Jangan lupa itu ya? Salah satu gak ada ya sama aja bohong. Eh ya ketinggalan, SABAR. Bersabar dalam menghadapi segala cobaan. Inget lho, tingkat keimanan seseorang itu ada tujuh. Setiap kita mau naik tingkat, pasti ada cobaannya. Tapi pasti ada jalan! Percaya sama nenek tua ini! Jangan pernah takut." Beliau tersenyum kepadaku dengan tatapan yang sungguh menenangkan. "Terima kasih bu atas nasihatnya." "Turun di mana? Komplek ya? Ibu naik 614 nih! Neng naik apa?" "Saya naik 640 bu. Kita turun bareng." ===== Setelah turun, kami berpisah. Si ibu kebelet mau nyari wc, sementara aku bergegas mengejar 640. Nyesel gak minta  nomer teleponnya. Nyesel gak ngasih kartu nama. Nyesel gak tunggu beliau sampe selesai menuntaskan hajatnya. Yah, An! Nyesel mah belakangan!  Tapi aku sungguh berterima kasih pada Allah yang menitipkan  cintaNya melalui ibu tadi. Sebenarnya sih ceritanya panjang dan penuh ngalor ngidul... Tapi poin2 di atas sungguh membekas... Semoga bermanfaat buat yang baca.... 
"Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskannya (melampiaskannya), maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi) Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda-beda. Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. Namun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja ditanggapinya dengan begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan ma’nawiyah (keimananan) seseorang. Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyelurusi lorong-lorong hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang, dan lapang dada. Adakalanya, kita bisa merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina diri kita. Kemarahan kita begitu memuncak seolah jiwa kita terlempar dari kesadaran. Kita begitu merasa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan dengan cara menumpahkan darah. Na’udzubillah. Menurut riwayat, ada seorang Badwi datang menghadap Nabi S.A.W. dengan maksud ingin meminta sesuatu pada beliau. Beliau memberinya, lalu bersabda, "Aku berbuat baik padamu." Badwi itu berkata, "Pemberianmu tidak bagus." Para sahabat merasa tersinggung, lalu mengerumuninya dengan kemarahan. Namun, Nabi memberi isyarat agar mereka bersabar. Kemudian, Nabi S.A.W. pulang ke rumah. Nabi kembali dengan membawa barang tambahan untuk diberikan ke Badwi. Nabi bersabda pada Badwi itu, "Aku berbuat baik padamu?" Badwi itu berkata, "Ya, semoga Allah membalas kebaikan Tuan, keluarga dan kerabat." Keesokan harinya, Rasulullah S.A.W. bersabda kepada para sahabat, "Nah, kalau pada waktu Badwi itu berkata yang sekasar engkau dengar, kemudian engkau tidak bersabar lalu membunuhnya. Maka, ia pasti masuk neraka. Namun, karena saya bina dengan baik, maka ia selamat." Beberapa hari setelah itu, si Badwi mau diperintah untuk melaksanakan tugas penting yang berat sekalipun. Dia juga turut dalam medan jihad dan melaksanakan tugasnya dengan taat dan ridha. Rasulullah S.A.W. memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak panik menghadapi kekasaran seorang Badwi yang memang demikianlah karakternya. Kalau pun saat itu, dilakukan hukuman terhadap si Badwi, tentu hal itu bukan kezhaliman. Namun, Rasulullah S.A.W. tidak berbuat demikian. Beliau tetap sabar menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan lemah lembut. Pada saat itulah, beliau S.A.W. ingin menunjukkan pada kita bahwa kesabaran dan lapang dada lebih tinggi nilainya daripada harta benda apa pun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang bertumpuk yang dipakai untuk suguhan unta yang ngamuk. Tentu saja, unta yang telah mendapatkan kebutuhannya akan dengan mudah dapat dijinakkan dan bisa digunakan untuk menempuh perjalan jauh. Adakalanya, Rasulullah S.A.W. juga marah. Namun, marahnya tidak melampaui batas kemuliaan. Itu pun ia lakukan bukan karena masalah pribadi. Melainkan, karena kehormatan agama Allah. Rasulullah S.A.W. bersabda, "Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa), dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam)." (HR. Bukhari) Sabdanya pula, "Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor." (HR. Turmudzi). Seorang yang mampu mengendalikan nafsu ketika marahnya berontak, dan mampu menahan diri di kala mendapat ejekan. Maka, orang seperti inilah yang diharapkan menghasilkan kebaikan dan kebajikan bagi dirinya maupun masyarakatnya. Seorang hakim yang tidak mampu menahan marahnya, tidak akan mampu memutuskan perkara dengan adil. Dan, seorang pemimpin yang mudah tersulut nafsu marahnya, tidak akan mampu memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa memunculkan permusuhan di masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang tidak memiliki ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil pasangannya. Bagi orang yang imannya telah tumbuh dengan suburnya dalam dadanya. Maka, tumbuh pula sifat-sifat jiwa besarnya. Subur pula rasa kesadarannya dan kemurahan hatinya. Kesabarannya pun bertambah besar dalam menghadapi sesuatu masalah. Tidak mudah memarahi seseorang yang bersalah dengan begitu saja, sekalipun telah menjadi haknya. Orang yang demikian, akan mampu menguasai dirinya, menahan amarahnya, mengekang lidahnya dari pembicaraan yang tidak patut. Wajib baginya, melatih diri dengan cara membersihkan dirinya dari penyakit-penyakit hati. Seperti, ujub dan takabur, riya, sum’ah, dusta, pengadu domba dan lain sebagainya. Dan menyertainya dengan amalan-amalan ibadah dan ketaatan kepada Allah, demi meningkatkan derajat yang tinggi di sisi Allah S.W.T. Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah S.A.W. bersabda, "Apakah tiada lebih baik saya beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah meninggikan gedung-gedung dan mengangkat derajat seseorang?" Para sahabat menjawab, "Baik, ya Rasulullah." Rasulullah saw bersabda, "Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau." (HR. Thabrani). Sabdanya pula, "Bahwasanya seorang hamba apabila mengutuk kepada sesuatu, naiklah kutukan itu ke langit. Lalu, dikunci pintu langit-langit itu buatnya. Kemudian, turunlah kutukan itu ke bumi, lalu dikunci pula pintu-pintu bumi itu baginya. Kemudian, berkeliaranlah ia kekanan dan kekiri. Maka, apabila tidak mendapat tempat baru, ia pergi kepada yang dilaknat. Bila layak dilaknat (artinya kalau benar ia berhak mendapat laknat), tetapi apabila tidak layak, maka kembali kepada orang yang mengutuk (kembali ke alamat si pengutuk)." (HR. Abu Dawud). (sumber ; Edi S. Kurniawan, Muhammad Haryadi, e-mail : Riyadi_albatawy@yahoo.co.id)==== Mungkin karena aku termasuk orang yang mudah meledak marah dan lahir dengan 'tegangan tinggi' (isitlah siapa ya lupa!), makanya aku gampang banget dah berkonfrontasi dengan pihak lain.Tetapi alhamdulillah, setelah 'cuci otak' dan 'cuci hati' di DTnya Aa Gym (dan beberapa kali dapat taushiyah pribadi darinya)... Aku mulai belajar berubah... untuk menahan marah... Ternyata... SULITNYA 1/2 mati!!! Ya Rabb... Mau tobat ajah sedemikian sulitnyaaa..... Bahkan hingga kini pun, jika aku sedang mendapat cintaNya melalui fitnah dan ghibah dari orang lain, aku langsung emosi. Padahal mah kalo aku mau melihat dari balik fitnah itu... Bukankah Allah sedang membersihkan diriku???? Mengangkat dosa2ku melalui berbagai cobaan fitnah itu???? Alhamdulillah (lagi).... Semakin hari aku semakin mudah menahan emosi.... Jika ada sesuatu yang dirasa meyakitkan hati, aku buru2 ke toilet dan berwudhu... Kemudian menangis... Dan mengadu hanya kepadaNya...Terakhir, baru deh curhat sama suami dan sahabat2 terdekatku... Untuk semua sahabatku, terima kasih atas segala cinta kalian.... PS: aku pun tak sakit hati bila ada yang memutuskan tali silaturrahim denganku. Dengan cara apapun, aku tetap berusaha menyapa mereka. Biar Allah menjadi saksi, aku tetap mencintai mereka... Dengan segala kekurangan mereka..
Gak tau deh.....Tergantung siapa yang tanya dan siapa yang ngukur kebaikannya....  Tapi coba disimak artikel ini ayng aku ambil dari http://kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=20 ini: ==== Apakah Bunda Theresa yang sepanjang usia nya dibaktikan untuk umat miskin India harus masuk neraka ? Apakah Paus Paulus II yang pernah menjamu calon pembunuhnya dengan baik hingga si calon pembunuhpun membatalkan rencana pembunuhan tersebut juga tak pantas masuk surga ? Apakah Mahatma Gandi yang secara lembut, sabar dan selalu menggunakan jalan damai untuk membela kemerdekaan rakyat India juga harus masuk neraka ? Bagaimana pula dengan sebagian dari milyaran umat manusia non Islam yang baik hati, apakah mereka harus masuk neraka dibanding sebagian dari milyaran umat Islam tapi buruk perilakunya ? Apakah Akhlak Menentukan Seseorang Masuk Surga atau Tidak ? Ada satu jawaban yang singkat, jelas dan tegas untuk pertanyaan tersebut yaitu, “kalau memang akhlak dijadikan patokan oleh Tuhan untuk menentukan pantas tidaknya seseorang masuk surga, maka agama tidak diperlukan lagi di muka bumi ini” Kalau memang akhlak kriteria utama menentukan masuk surga atau tidaknya seseorang, maka untuk apa lagi agama, karena tanpa agama saja orang bisa berbuat baik. Di negeri atheis seperti di Rusia, China, atau di negeri sekuler seperti Eropa dan Amerika, ditemukan banyak orang yang tak beragama tapi memiliki akhlak yang luar biasa baiknya. Tidak usah jauh-jauh, pasti kita sering menemukan diantara teman atau tetangga kita akhlaknya sangat baik, ia mengaku punya agama tapi tak pernah sholat atau ke gereja, tapi nyatanya akhlaknya lebih baik dari umat Islam yang rajin beribadah. Sifat baik adalah fitrah yang diberikan Allah sejak kita didalam kandungan. Fitrah (sifat-sifat baik) adalah kecenderungan manusia untuk berbuat kebaikan, seperti halnya binatang buas diberi Allah kecenderungan untuk bersifat buas, mereka akan tetap buas walaupun manusia berusaha menjinakkannya. Hawa nafsu dan pilihan manusia sendiri yang membuat seorang manusia menjadi jahat dan berperilaku buruk. Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus) semuanya. Dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan yang menyebabkan mereka tersesat dari agama mereka” (HR Muslim). Allah menganugerahi manusia kesempatan untuk memilih yang baik atau yang buruk sesuai firman Allah : “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (QS, Al-Balad 90 : 10). “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS, Al-Insaan 76 : 3). Kemudian setan berusaha mengaburkan jalan yang benar sehingga jalan yang baik oleh manusia dikira sesat, dan jalan yang sesat dikira benar. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Al Baqarah 2 : 216) : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Namun tujuan tulisan ini sama sekali bukan untuk menyatakan bahwa akhlak yang baik tidak penting, atau menjadi muslim yang berperilaku buruk lebih baik daripada non-Islam yang baik hati. Tujuan tulian ini agar kita menyadari bahwa Tuhan tidak menuntut dari manusia sekedar akhlak yang baik, tapi juga ada hal lain yang lebih utama dibanding akhlak. Bahkan Akhlak Seorang Muslim Yang Baik Sekalipun Tidak Cukup Untuk Membuatnya Masuk Surga. Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua?" Nabi SAW sangat terharu mendengarnya, sambil memeluk anak muda itu ia berkata : "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan oleh pengorbanan dan kebaikanmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita terhadap anaknya. Kita merasa sudah cukup, tapi dalam perhitungan Allah nilai jasa kedua orang tua pada anaknya jauh lebih besar nilainya dari yang dibayangkan manusia. Pasti ada sesuatu perbuatan lain yang harus kita lakukan untuk memperbanyak balas budi kita pada kedua orang tua kita. Diantaranya dengan cara menjadi anak yang sholeh dan selalu mendoakan kedua orangtua kita. Untuk membalas budi kedua orang tua saja kita tidak akan pernah sanggup, apalagi membalas kebaikan Tuhan yang mengkaruniakan kita fitrah kasih sayang pada kedua orang tua kita, yang mengkaruniakan kita mata yang mampu melihat, telinga yang mampu mendengar, lidah yang mampu merasakan kelezatan makanan, yang telah mengkaruniakan kita udara secara gratis. Ada perspektif yang sama antara hadits tersebut barusan dengan hadits berikut ini. Rasulullah SAW pernah berkata, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh sayapun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” . Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”. Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah. Apa makna dari kedua hadits tersebut diatas ? Yaitu bahwa perbuatan baik (akhlak) dan ibadah kita ternyata tidak mampu untuk mendapatkan tiket ke surga. Hanya karena rahmat-Nya lah kita bisa ke surga. Akhlak dan amal ibadah juga tidak cukup menjamin kita terbebas dari api neraka, hanya ampunan-Nya lah yang bisa membuat kita terbebas dari api neraka. Karena itu kita diminta banyak memohon rahmat dan ampunan Allah. Pertanyaan berikutnya (dikaitkan dengan judul tulisan ini) adalah apa syaratnya agar doa kita untuk memohon rahmat dan memohon ampunan Allah bisa diterima ? Tidak semua orang diberi rahmat surga, dan tidak semua orang diberi ampunan dari ancaman neraka. Karena itu Allah menentukan syarat utamanya adalah beriman kepada-Nya dan rasul-Nya (melalui syahadat). Ia harus memiliki aqidah yang benar, memahami siapa Tuhan yang disembahnya dengan benar, apa yang dimaui-Nya, bagaimana cara mencintai-Nya. Inilah syarat utama agar permohonan rahmat dan ampunan kita bisa diterima. Apakah Benar Anggapan Bahwa Sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang Akan Membuat Allah Tidak Mungkin (Tega) Menghukum Orang Yang Baik Hati ? Di akhirat kelak orang yang tidak beriman kepada Allah akan membawa amal kebaikannya ke hadapan Allah, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, seperti tersebut dalam Al Qur’an surat Al Furqan ayat 23, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. Ibarat seorang pembantu yang bekerja keras pada majikannya, setiap hari ia bangun pagi membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyapu halaman, menjaga keselamatan anak majikan selama majikan bekerja diluar. Namun sang pembantu yang rajin ini ternyata tidak sopan dalam kata dan perilaku, Sang pembantu tidak mau berusaha memperbaiki sikapnya ini pada atasannya, karena ia mempunyai pendapat sendiri tak mungkin majikan akan memecatnya karena ia sudah bekerja sangat keras dan merawat anak-anak majikannya dengan baik. Ia tidak juga berusaha mencari tahu apa yang diinginkan sang majikan. Padahal jelas sang majikan sudah menulis tatatertib dan uraian kerja pembantu rumah tangga, diantaranya disebutkan bahwa kesopanan adalah syarat terpenting bekerja di rumah majikan tersebut. Bahkan terkadang ia sombong dan keras hati serta menyimpulkan sendiri bahwa sebagai orang yang berintelektual tinggi seharusnya majikannya bisa menerima kekurangan sang pembantu. Iapun kaget ketika di akhir bulan, sang majikan memecatnya dengan alasan tidak sopan. Ia protes tapi majikannya punya hak. Analogi sederhana ini, menyiratkan bahwa agar doa, ampunan, amal dan ibadah kita bisa diterima Allah hendaknya kita mengenal Allah secara baik, melalui perenungan dan makrifatullah. Kitapun sebagai hamba Allah perlu mencari tahu apa sebenarnya syarat utama yang diinginkan Allah agar segala amal ibadah dan akhlak baik kita diterima Allah. Tidak susah mengenal Allah karena karya-Nya ada disekeliling kita, yaitu alam semesta ini, bahkan Ia telah memperkenalkan diri-Nya pada manusia melalui kitab-kitab suci dan ajaran nabi-Nya. Dengan mengenal allah secara baik kita akan tahu bahwa Allah sangatlah penyayang, demikian sabar dengan kelemahan manusia, terlalu banyak kesalahan kita yang dimaafkan-Nya, bahkan kita akan tahu bahwa terlalu berlebihan kalau keimanan, amal ibadah dan kebaikan kita dibalas dengan surga yang luar biasa nikmatnya. Dengan hati yang bersih dan ilmu yang cukup juga akan memudahkan kita memahami mengapa Allah mengancam orang-orang tidak beriman dan yang buruk akhlaknya dengan neraka. Memahami Allah dengan menggunakan kemampuan akal manusia adalah sia-sia, karena hakikat sifat-sifat Allah tidak dicerna oleh akal manusia, tapi oleh hati manusia. Hati manusia akan membantu kita memahami Allah, karena didalam hati bersemayam fitrah manusia yang salah satunya memiliki sifat-sifat cinta kepada Allah. Hatipun perlu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran (sifat sombong, dengki, kikir, dsbnya) agar fitrah manusia bisa diaktifkan untuk memahami sifat-sifat Allah dengan baik. Tanpa Mengenal Sifat Allah Dengan Baik Maka Sia-sialah Akhlak Baik, Amal dan Ibadah Kita Melalui pengenalan yang baik terhadap Allah melalui cara-cara yang diatur dalam Qur’an dan hadits, akan kita temukan bahwa Allah mensyaratkan aqidah Islam yang benar sebelum segala amal ibadahnya diterima. Aqidah adalah hal yang pokok yang membedakan Islam dengan agama lainnya. Aqidah adalah fondasi bangunan seorang umat Muslim, sedang ibadah (syariah) adalah dinding bangunan seorang Muslim, lalu akhlak adalah atapnya. Tanpa fondasi maka ia pun tidak bisa mendirikan bangunan diri seorang Muslim, tanpa aqidah yang benar dan lurus iapun tidak pantas disebut seorang Muslim. Tanpa ibadah yang sesuai syariah Islam, iapun belum sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah bangunan yang bernama Muslim. Demikian pula, tanpa Atap yang bernama akhlak, bangunan yang bernama Muslim ini belum utuh dan akan mudah rusak oleh hujan dan panas. Muslim yang baik wajib memiliki ketiga syarat ini (aqidah, ibadah dan akhlak) secara lengkap, tidak kurang satupun, dan harus sempurna. Bila aqidahnya salah, maka kekal lah ia di neraka, bila ibadah dan akhlak buruk maka ia ‘mungkin’ masih berpeluang masuk surga setelah di’cuci’ dulu di neraka. Semoga kita tidak termasuk sebagai orang yang di’cuci’ dulu, apalagi kekal, di neraka. Mumpung kita masih hidup di dunia ini, semoga kita diberi ilmu oleh Allah SWT mengenai kedahsyatan akhirat dan neraka, supaya kita tidak menggampangkan diri untuk menganggap bahwa di’cuci’ di neraka adalah bukan masalah besar. Tidak untuk sedetikpun ! Naudzu billah min dzalik. Aqidah adalah apa yang diyakini seseorang, bebas dari keraguan. Aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu. Aqidah Islam merupakan syarat pokok menjadi seorang mukmin, dan merupakan syarat sahnya semua amal kita. Untuk memperoleh aqidah yang lurus kita perlu mempelajari dan memahami sifat-sifat Allah dan apa-apa yang disukai dan dibenci Allah. Tanpa aqidah yang lurus maka amal ibadah kita tidak diterima-Nya. Salah satu hal yang paling dibenci Allah SWT adalah syirik, yaitu mensejajarkan diri-Nya dengan makhluk atau benda ciptaan-Nya. Allah berfirman, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang yang merugi” (QS, Az-Zumar: 65). Aqidah adalah tauqifiyah, artinya tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil, dan tidak ada medan ijtihad atau berpendapat didalamnya. Sumbernya hanya al-Qur’an dan as-Sunnah, sebab tidak ada yang lebih mengetahui tentang sifat-sifat Allah selain Allah sendiri. Aqidah Islamiyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah SWT dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan ta’at kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, hari akhir, taqdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang sudah shahih tentang Prinsip-Prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih. Begitu pentingnya aqidah dalam Islam, sehingga pelurusan aqidah adalah dakwah yang pertama-tama dilakukan para rasul Allah, setelah itu baru mereka mengajarkan perintah agama (syariat) yang lain. Didalam Al Qur’an, surat Al-A’raf ayat 59, 65, 73 dan 85, tertulis beberapa kali ajakan para nabi, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain-Nya”. Dengan demikian ilmu Tauhid sebagai ilmu yang menjelaskan aqidah yang lurus, merupakan ilmu pokok yang harus dipahami sebaik mungkin oleh setiap umat Islam yang ingin memperdalam ilmu agamanya. Tanpa aqidah yang benar seseorang akan terbenam dalam keraguan dan berbagai prasangka, yang lama kelamaan akan menutup pandangannya dan menjauhkannya dari jalan hidup kebahagiaan. Tanpa aqidah yang lurus seseorang akan mudah dipengaruhi dan dibuat ragu oleh berbagai informasi yang menyesatkan keimanan kita. Wallahu a’lam bish shawab. Sumber : tulisan oleh Abdillah M.U & diedit sedikit oleh Penjaga Kebun. === Jawaban yang bagus!  Ini aku persembahkan kepada kalian, wahai sahabat2ku....
Ada yang bilang bahwa aku pengecut dan penakut karena sering ngomongin kematian. WHAT???  Eh, gak salah tuh yang ngomong? Sori menyori lah jreng! Aku sama sekali gak takut mati, tapi justru itu sebagai bahan pengingatku bahwa kematian bisa menjemputku kapan ajah. Lihat dibawah ini: ==== Ketahuilah wahai penguasa dunia, bahwa manusia itu terdiri dari dua golongan: satu golongan yang memandang perkara dunia dan berangan-angan memiliki umur panjang. Golongan kedua adalah golongan orang-orang berakal yang menjadikan kematian sebagai cermin untuk melihat kemana tempat mereka kembali, bagaimana keluar dari dunia dengan keimanan yang tetap selamat. Mereka juga memikirkan apa yang akan mereka bawa dari dunia untuk bekal alam kubur mereka. Mereka juga memikirkan apa yang akan mereka tinggalkan untuk musuh-musuh mereka bencana dan siksaan. Pemikiran ini wajib dimiliki oleh manusia, lebih-lebih lagi bagi para penguasa dan pemilik dunia, karena mereka paling banyak membuat cemas hati manusia. Mereka memberikan budak-budak mereka kepada orang lain dengan cara yang jahat. Mereka membuat khawatir manusia dan membuat takut hati manusia. Sesungguhnya disisi Allah SWT terdapat seorang pengawal yang namanya Izra'il. Tidak ada tempat sembunyi bagi siapapun bagi kedatangannya. Semua pembantu kerajaan meminta upah berupa emas, perak, dan makanan, sedangkan pembantu yang ini (Izra'il) tidak meminta upah kecuali nyawa. Semua wakil Sultan memerlukan syafaat, sedangkan wakil ini (Izra'il) tidak memerlukan syafaat. Semua wakil suka menangguh-nangguhkan tugasnya mungkin sehari, semalam, atau sejam, sedangkan wakil ini tidak pernah menangguhkan tugasnya satu hembusan nafaspun. Ketahuilah, bahwa orang-orang yang lalai dan tertipu tidak suka mendengarkan cerita-cerita tentang kematian karena mereka tidak ingin kehilangan perasaan cinta dunia dan kelezatan makanan dan minuman mereka . Terdapat sebuah riwayat yang menyatakan bahwa orang yang banyak mengingat mati dan gelapnya liang lahat, maka kuburnya seperti salah satu taman dari taman-taman surga. Sedangkan orang yang melupakan kematian dan lalai dari mengingatnya, maka kuburnya seperti salah satu jurang dari jurang-jurang neraka. Pada suatu hari Rasulullah sedang membahas pahala orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang berbahagia, yaitu orang-orang yang terbunuh dalam medan perang melawan orang-orang kafir. Kemudian Aisyah berkata, "Wahai Rasulullah, apakah pahala mati syahid akan diperoleh oleh orang-orang yang tidak mati syahid?" Rasulullah SAW bersabda, "Siapa saja yang mengingat kematian dua puluh kali setiap hari, maka paha dan derajatnya sama dengan orang-orang yang mati syahid." Rasulullah SAW bersabda, "Perbanyaklah mengingat mati karena hal itu akan menghapus dosa dan menghilangkan perasaan cinta dunia dalam hatimu." Rasulullah SAW pernah ditanya, "Siapakah manusia yang paling berakal dan paling bijaksana?" Rasulullah SAW menjawab, "Orang yang paling berakal adalah orang yang paling banyak mengingat kematian. Sementara orang yang paling bijaksana adalah orang yang paling baik persiapannya. Dia akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat." Siapa saja yang mengenal dunia sebagaimana yang telah kami uraikan dan senantiasa mengingat kematian dalam hatinya, maka urusan dunianya akan menjadi mudah. Hal itu juga akan menguatkan fondasi keimanannya, menumbuhkan dan menambahkan keimanan dalam hatinya, serta menumbuhkan cabang pohon keimanan yang ada padanya. Dia akan menemui Allah dengan keimanan yang kokoh. Allah Yang Maha Sempurna Kekuasaan-Nya dan Maha Tinggi Perkataan-Nya, akan menerangi pandangan para penguasa dunia sehingga ia akan melihat hakikat segal;a sesuatu, bersungguh-sungguh dalam menggapai kehidupan akhirat, dan berbuat baik kepada hamba-hamba Allah serta makhluk-Nya. Sesungguhnya ditengah-tengah makhluk terdapat berjuta-juta rakyat jika diperlakukan dengan adil maka mereka akan memberikan syafaat. Siapa saja dari kalangan orang-orang yang beriman, yang mendapatkan syafaat dari seluruh makhluk, maka pada Hari Kiamat dia akan selamat dari azab. Tetapi, jika dia menzalimi mereka, maka mereka semua akan memusuhinya. Urusannya akan hancur berantakkan. Jika pemberi syafaat menjadi musuhnya, maka urusannya akan menjadi tidak menentu. Sumber : Buku "ETIKA BERKUASA: Nasihat-nasihat Imam Al-Ghazali - Karya Imam Al-Ghazali. =====
Jadi, aku gak takut!  Kesian amat sih yang udah nuduh aku gak2 begituh? Si penuduh yang mestinya berpikir, apa dia sendiri udah siap kalo mati?  Ada2 ajah deh!
Seorang sahabat dapat mempengaruhi karakter dan akhlak sahabatnya. Jika sahabat tersebut orang yang wajahnya berseri, tenang jiwanya, dan optimis dalam hidup, maka sifat baik ini bisa menular kepada sahabatnya.
Jika ia orang yang musam raut wajahnya, keras mukanya dan tidak tahu malu, pesimis dalam menghadapi hidup, selalu gelisah, selalu minder, maka sifat2 itu pun bisa menyuebabkan tumbuhnya kegelisahan di hati sahabatnya. ==== Buku: Menjadi Wanita Paling Bahagia (Dr. 'Aidh al-Qarni, hal 209)
Bersikaplah objektif dalam setiap hal, niscaya engkau akan bahagia
Suka aja sama lagunya, serasa mewakili kegetiran hati aku... Beneran, gak didramatisir kok! Rasanya pas... Ya kecuali bagian padang pasirnya..Hehehe..Soalnya belum pernah ke Mesir....
=== Desir pasir di padang tandus Segersang pemikiran hati Terkisah ku di antara cinta yang ruhwi Bila keyakinanku datang Kasih bukan sekadar cinta Pengorbanan cinta yang agung kupertaruhkan
Maafkan bila ku tak sempurna Cinta ini tak mungkin ku cegah Ayat-ayat cinta bercerita Cintaku padamu Bila bahagia mulai menyentuh Seakan ku bisa hidup lebih lama Namun harus kutinggalkan cinta Ketika ku bersujud
| Ayat Ayat Cinta | | Ost. Ayat-Ayat Cinta | | Rossa | |
Semua orang mengenalku dengan nama Diana. Atau An. Atau Andiana. Aku yang meminta mereka menanggilku demikian. Awalnya, aku mau dipanggil Diana. Satu hal, karena almarhum bapakku pernah nge-fans berat sama Lady Di. *tepok-tepok jidat* Ya, sainganku berat bener? Tapi bapak bilang, agar aku bisa secantik Lady Di. Ogah...Nama panggilanku dari kecil "An-an". Malah kadang Anci alias anak cina. Mungkin karena sewaktu kecil, mataku sipit banget dan kulitku putih..tih... (Kalo kata temenku, kulit susu..bweeehh...) Sekarang, aku dipanggil An Diana... Sekalian dobel deh, biar gak keder. Yang pasti jangan dipanggil Diana, pasaran!!! Nama belakangmu???  Siti Khadijah.  Indah kan? Seperti kata Teh Rien, "Ya udah saya panggil kamu khadijah ya...Nama itu lebih keren buat teteh." Aku bingung mau jawab apa... Aku justru merasa terbebani dengan nama itu. Aku merasa sangat jauh bila dibandingkan dengan Ummul Mukminin terserbut. Beliau tak akan pernah bisa terkejar olehku. Membaca referensi tentang beliau di http://www.ummigroup.co.id//?pilih=lihat&id=16 membuatku semakin terpojok... Keagungan seorang Khadijah, istri tercinta Rasulullah... Aku merasa semakin tak pantas menyandang nama itu...  Berat nian... Tetapi, setidaknya, aku merasa ada semacam 'pagar' yang membatasiku, membantuku agar tetap di jalan yang benar (maksudnyaaaa  ), dan selalu introspeksi... Jadi, ya aku mohon tetap panggil aku An saja agar aku tidak semakin terbebani... Allah, ampuni hamba bila belum bisa meneladani sedikitpun sosok Khadijah binti Khuwailid.... Coba lihat juga di sini: http://romanpicisan.blogspot.com/2007/11/just-ordinary-me.html
eramuslim - Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Pffhh…sungguh semua itu telah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.
Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa.
Hidup ini ibarat belantara.Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.
Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.
Apa yang memeng menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan.Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan bisa kita miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS Al-Hadid ;22-23)
Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh.Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita,bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: Pokoknya harus dia Ya Allah… harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya kalaupun Allah memberikannya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkannya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkannya dengan marah karena niat kita yang terkotori.
Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah : "…. Boleh jadi kalian membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian.Allah Maha mengetahui sedang kalian tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah 216)
Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu didunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak!
Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu! ===
yayayaya.... aku ngerasa ketonjok ama artikel ini..kok bisa ya.... *nyengir mode on*
Kaum feminis bilang susah jadi wanita ISLAM,
Lihat saja peraturan dibawah ini :
1.. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
2.. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3.. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
4.. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
5.. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6.. Wanita wajib taat kpd suaminya tetapi suami tak perlu taat pd isterinya.
7.. talak terletak di tgn suami dan bukan isteri.
8.. Wanita kurang dlm beribadat karena masalah haid dan nifas yg tak ada pada lelaki.
makanya mereka nggak capek-capeknya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA ISLAM"
Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??
1.Benda yg mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yg teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dgn seorg wanita.
2.Wanita perlu taat kpd suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?
3.Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya utk isteri dan anak-anak.
4.Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di mukabumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.
5.Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.
6.Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 org lelaki ini: Suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
7.Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana mana pintu Syurga yg disukainya cukup dgn 4 syarat saja :
- sembahyang 5 waktu, - puasa di bulan Ramadhan, - taat pada suaminya dan - menjaga kehormatannya.
8.Seorg lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala org pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
Masya ALLAH ... demikian sayangnya ALLAH pada wanita bukan?
"Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada satupun yang dapat menyesatkan, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada satupun yang dapat memberi petunjuk. Hamba bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang tunggal dan hamba bersaksi bahwa Rasulullah SAW adalah Utusan Allah SWT."
| |